Terapi Hormon pada Kanker Payudara

Hormon adalah zat kimia yang berperan dalam pengaturan kerja tubuh. Perkembangan payudara, mulai dari pubertas hingga produksi air susu ibu saat setelah persalinan diatur oleh dua hormon utama pada wanita, yaitu hormon estrogen dan progresteron.

Agar dapat bekerja, hormon harus menempel terlebih dahulu pada reseptornya. Konsep ini dapat dibayangkan seperti gembok dan kunci. Reseptor adalah gemboknya dan hormon adalah kuncinya. Setiap gembok hanya bisa dibuka oleh kunci tertentu. Reseptor dan hormon juga demikian. Reseptor hormon estrogen hanya bisa ditempeli oleh hormon estrogen.

Terapi hormon ditujukan untuk kanker payudara yang memiliki reseptor hormon, yaitu reseptor estrogen (disingkat ER karena dari bahasa Inggris estrogen receptor) dan reseptor progesteron (disingkat PR karena bahasa Inggris progesteron receptor). Ada-tidaknya kedua reseptor hormon tersebut di kanker payudara bisa dideteksi melalui pemeriksaan imunohistokimia (IHK) dari jaringan kanker payudara (melalui biopsi).

Terapi hormon tidak akan efektif terhadap kanker payudara dengan ER dan/atau PR negatif atau rendah. ER lebih diutamakan, sementara PR masih bersifat sebagai penunjang. Walaupun ER 1% sudah dikatakan positif, batas di mana kanker payudara diharapkan akan memberi respons cukup baik terhadap terapi hormon adalah jika ER > 9%. Walaupun masih dapat diberikan terapi hormon, kanker payudara dengan ER yang nilainya kurang atau sama dengan 9%, responsnya sering kali serupa dengan kanker payudara ER negatif.

Indikasi Pemberian Terapi Hormon

Pada umumnya, terapi hormon diberikan setelah kanker payudara di operasi yang ditujukan untuk mengurangi risiko kanker kambuh di masa mendatang. Terapi yang diberikan setelah operasi untuk tujuan tersebut dikenal juga dengan istilah terapi adjuvan.

 

Ada juga istilah terapi neoadjuvan, yaitu terapi yang diberikan sebelum operasi dengan tujuan untuk mengecilkan ukuran kanker sebelum operasi berlangsung. Kini, terapi hormon untuk kanker payudara mulai diberikan sebagai terapi neoadjuvan, tetapi masih pada kasus-kasus tertentu saja yang dipilih secara sangat selektif.

 

Kanker payudara yang tidak dioperasi karena sudah terlanjur menyebar ke organ lain (metastasis) dapat diberikan terapi hormon, asalkan reseptor hormonnya positif dan tidak ada krisis (kegawatan karena kanker) pada organ vital (paru-paru dan hati).

Dahulu, terapi hormon hanya digunakan untuk kanker payudara invasif. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan ini terapi hormon juga ditujukan sebagai terapi adjuvan untuk kanker payudara in situ yang reseptor hormonnya positif. Pada kanker payudara in situ, terapi hormon diberikan dengan dosis lebih rendah dibandingkan kanker payudara invasif.

Faktor utama yang menentukan pemilihan terapi hormon untuk pasien kanker payudara:
• Usia pasien (premenopause atau menopause).
• Risiko kanker (kanker risiko rendah atau risiko tinggi).
• Hasil diskusi antara dokter dan pasien mengenai efek samping yang kemungkinan akan dialami yang disesuaikan dengan kesiapan dan harapan pasien.

Secara umum, efek samping terapi hormon lebih ringan dibandingkan kemoterapi karena obat terapi hormon hanya bekerja pada sel-sel yang memiliki reseptor hormon saja (tepatnya, reseptor hormon estrogen dan progesteron).