Penegakan Diagnosis Kanker Payudara

Diagnosis kanker payudara harus ditegakkan terlebih dahulu secara pasti oleh seorang dokter sebelum rencana terapi dirancang untuk pasien.  

Terdapat 2 tahapan yang harus dilalui dalam penegakan diagnosis oleh dokter

Tahap 1: Dokter mengajukan pertanyaan kepada pasien yang sekiranya mengarah ke gejala-gejala kanker payudara (ada atau tidaknya benjolan payudara, perubahan tekstur kulit payudara, dan lain-lain). Proses ini dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik, yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan alat-alat sederhana atau bahkan tanpa alat khusus. Setelahnya dokter bisa meminta pasien melakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium atau radiologi.  Setelah tahapan tersebut, dokter sudah dapat menegakkan “diagnosis kerja”. Jika pada fase ini dokter memiliki kecurigaan bahwa pasien memiliki kemungkinan kanker payudara, maka harus dilakukan tahap pemeriksaan berikutnya.

Tahap 2: Penegakan “diagnosis pasti”. Sesuai namanya, diagnosis pasti berarti sudah tidak ada lagi keraguan. Untuk kanker payudara, diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi (PA) atau histopatologi.  Pemeriksaan PA adalah pemeriksaan sampel jaringan tumor oleh seorang dokter spesialis patologi anatomi. Sampel diperiksa menggunakan mikroskop, dengan tujuan membedakan benjolan yang dimiliki pasien merupakan kanker atau bukan. Jika merupakan kanker, maka diperlukan pemeriksaan lanjutan patologi untuk melihat sub tipe atau sifat biologi atau sifat kanker payudara melalui pemeriksaan patologi anatomi imunohistokimia (IHK). Sifat ini nantinya akan memengaruhi pilihan terapi yang dapat ditawarkan dokter kepada pasien.

Ada juga sampel jaringan yang “diambil” oleh dokter spesialis bedah, dikenal juga dengan sebutan “biopsi”. Syarat biopsi di era modern seperti sekarang adalah : cepat, berbiaya rendah, aman, dan memberikan hasil yang akurat. Oleh sebab itu, Karenanya biopsi perkutan (melalui jarum yang dimasukkan lewat kulit – bukan pembedahan dengan sayatan besar) merupakan baku emas biopsi payudara saat ini. Sekitar 90% benjolan payudara dapat dilakukan biopsi menggunakan jarum inti atau core (core biopsy) dengan dipandu alat ultrasonografi (USG).  Di tangan dokter bedah yang sudah berpengalaman melakukan tindakan ini, benjolan terkecil yang dapat diambil melalui core biopsy adalah 0,5 cm (sementara itu tidak ada batas maksimal ukuran benjolan). Jika ternyata benjolan berukuran kurang dari 0,5 cm, disarankan menggunakan alat yang bernama vacuum-assisted breast biopsy (VABB). Ada pula jenis kelainan payudara tertentu yang tidak terlihat di USG, tetapi bisa tertangkap oleh mamografi (alat skrining dan deteksi payudara yang menggunakan sinar-X). Pada kasus demikian, core biopsy atau VABB dipandu oleh mamografi, dinamakan biopsi stereotaktik. Selama tindakan core biopsy maupun VABB, pasien cukup diberikan bius lokal, serta pasca tindakan pasien dapat segera pulang.

Dahulu, penegakkan diagnosis kanker payudara umumnya dilakukan dengan cara melakukan operasi langsung pada pasien. Cara ini sebaiknya tidak lagi dilakukan karena berpotensi memberikan pasien terapi yang tidak tepat. Sejak tahun 1999, seiring perkembangan ilmu terapi kanker payudara di dunia, cara ini pun ditinggalkan. Di sisi lain, pendapat yang menyatakan bahwa semakin cepat kanker payudara dioperasi, akan memberikan hasil yang lebih baik, tidak selamanya betul. Karena pengobatan kanker walau harus segera dilakukan, berbagai hasil penelitian saat ini menunjukkan penatalaksanaan kanker payudara tidak semuanya harus berupa operasi di tahap pertama. Walaupun operasi akan dilakukan, demi keamanan pasien, bisa jadi operasi ada di tahap kedua atau tahap lain, bergantung pada stadium dan sifat kanker yang dimiliki pasien. Hal ini akan dijelaskan dan didiskusikan dokter dengan pasien.

Artikel by Yayasan Smart Pink Indonesia