MENYIKAPI DIAGNOSIS KANKER PAYUDARA

Jika anda terdiagnosis kanker payudara, bagaimana menyikapinya? Bagaimana untuk mampu “deal” dengan diri sendiri?

Bukan hanya karena adanya risiko yang bisa menimbulkan kematian, tetapi juga karena bagi wanita, payudara merupakan simbol kewanitaan, keindahan, dan merupakan organ seksual sekunder. Oleh karena itu, sangatlah wajar bila seorang wanita kemudian merasa syok saat mendapati dirinya terdiagnosis sebagai penderita kanker payudara.

Bagaimana bila Anda atau orang yang Anda kenal ternyata didiagnosis dengan kanker payudara? Pada seseorang yang terdiagnosis menderita salah satu penyakit berat, termasuk kanker, biasanya akan mengalami lima tahap penyesuaian diri, yaitu:
1. Menyangkal (denial)
2. Marah (anger)
3. Menawar (bargaining)
4. Depresi (depression)
5. Menerima (acceptance)

Pada tahap menyangkal, pikiran yang terbersit adalah “Ini tidak mungkin terjadi.” Ini fase paling awal dari suatu kesedihan, di mana penderita akan lari dari kenyataan yang ada. Berikutnya adalah tahap kemarahan. Penderita akan menyalahkan keluarga, teman, bahkan melampiaskan kemarahan pada benda mati. Selanjutnya, menawar dengan kenyataan yang ada mulai dilakukan. “Andai saja kita segera berobat”, “Andai saja kita berbuat lebih baik lagi”, dan tawar-menawar lain dengan Tuhan sebagai tanda tidak berdaya. Depresi akan mulai menghinggapi setelahnya. Rasa sedih tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan orang yang disayangi. Ada juga keinginan untuk mengucapkan perpisahan dengan orang yang dicintai. Terakhir setelah melewati semua tahapan, barulah ada kepasrahan. Penderita sudah tenang dan siap dengan akibat terburuk. Tidak semua orang bisa mencapai fase terakhir ini, jadi sungguh beruntung bila benar-benar bisa mencapai tahap ini.

Tidak semua tahap tersebut harus dilalui satu per satu. Ada juga yang langsung bisa menerima, tanpa harus menyangkal, marah, atau bersedih. Respons penderita menghadapi vonis kanker sifatnya sangat individual, berbeda antara satu orang dengan orang lainnya, tergantung pada kematangan kejiwaan, dan juga tentunya ketaatan menjalankan agamanya. Makin matang kondisi mental dan emosional seseorang, maka makin cepat mencapai ke fase ke-5, yaitu menerima kenyataan yang terjadi.

Karena itu, bila Anda atau keluarga atau teman terdiagnosis kanker payudara, tentunya yang terbaik adalah menerima kenyataan tersebut secepat mungkin, yaitu masuk ke tahap menerima atau pasrah sehingga bisa lebih cepat diobati oleh dokter. Ketika tahap menyangkal yang lebih dominan, maka penderita biasanya akan merasa takut ke dokter, kemudian mencari alternatif pengobatan lain atau ke “orang pintar”, yang dengan berbagai cara pengobatannya malah justru memperburuk penyakitnya. Pada pengobatan alternatif, sering diobati dengan cara ditekan, dipijat, dilakukan tindakan dengan benda tajam, dibekam, atau obat-obat herbal. Ini bisa jadi dapat mempercepat penyebaran kankernya.

Atau, setidaknya ada waktu dan biaya yang terbuang tanpa terapi yang tepat. Akibatnya, kanker diberikan waktu untuk berkembang lebih lanjut sehingga stadiumnya meningkat. Penyangkalan akan penyakit yang diderita inilah yang sering menyebabkan penderita kanker datang terlambat. Bila terlambat, maka pasien tidak bisa diberikan pengobatan yang terbaik lagi. Sebab, semakin lanjut stadium kanker ketika diobati, maka hasilnya akan semakin tidak baik. Berbeda bila diobatinya masih dalam stadium dini, maka hasilnya akan lebih baik.

Untuk sampai pada tahap menerima, maka agama dan spiritualitas diakui menjadi faktor yang sangat penting. Kedekatan serta keyakinan kita kepada Tuhan adalah sumber kekuatan, energi, serta motivasi untuk bangkit dan memiliki harapan. Berdasarkan pengalaman penulis, sejumlah pasien yang mengandalkan agamanya, terlihat jauh lebih kuat dan memiliki “pegangan” untuk bersabar dan menahan sakit.

Selain spiritualitas, ada aspek-aspek lain yang bisa mengembangkan harapan saat Anda terdiagnosis kanker payudara. Aspek-aspek tersebut: cinta dari keluarga dan teman, memiliki tujuan hidup, adanya hubungan positif dengan para profesional yang membantu pengobatan, humor, karakter yang positif, serta adanya kenangan yang bisa membangkitkan semangat. Karena itu, bila Anda terdiagnosis sebagai penderita kanker payudara, maka bangunlah kedekatan dengan Tuhan, rengkuh cinta dan bantuan dari orang terdekat Anda (pasangan, keluarga, dan teman), asahlah rasa humor Anda, mencoba untuk berusaha memiliki positive thinking dan positive feeling, dan ingatlah banyak hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan Anda. Dengan demikian, Anda diharapkan bisa segera “move on” dari tahap menyangkal, lalu menerima dengan keyakinan penuh pada adanya pertolongan Tuhan untuk kemudian segera meminta bantuan kepada dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.