GATHERING SMART PINK – 31 AGUSTUS 2019

Foto bersama seluruh peserta, pembicara dan panitia

Pertemuan peduli kanker payudara yang diadakan rutin setiap bulan di Auditorium RS. MMC pada tanggal 31 Agustus 2019 mengusung tema ‘Mengenali dan Mengatasi Efek Samping Terapi Hormonal Kanker Payudara pada Organ Kewanitaan’ sebagai pembicara dr. Arief Gazali, SpOG. Acara yang tidak hanya dihadari oleh para survivor kanker tapi juga dari masyarakat umum yang ingin menambah ilmunya di bidang kesehatan. Selain Healty Talk acara Gathering Smart Pink kali ini juga menghadirkan demo kecantikan  bagi para survivor yang habis menjalani kemoterapi agar terlihat lebih fresh dan cantik. 

dr. Farida Briani saat menyampaikan materi pembuka

Sebelum kami membagikan dokumentasi keseruan acara Gathering Smart Pink sabtu kemarin. Berikut kami sampaikan ringkasan materi yang diberikan oleh dr. Arief Gazali, SpOG.

Kanker payudara merupakan penyakit kanker kedua yang paling banyak terjadi dan berada pada urutan ke lima dalam penyebab kematian. Sebanyak 60-75% dari seluruh kasus kanker payudara ditemukan reseptor hormon estrogen pada sel kankernya. Terapi hormonal merupakan salah satu terapi pada kanker payudara yang bertujuan untuk menekan fungsi hormon estrogen dan/atau menghambat reseptor estrogen.

Terapi hormonal pada kanker payudara yang umum digunakan adalah golongan Selective Estrogen Receptor Modulators (SERM) dan golongan Aromatase Inhibitor (AI), serta pada beberapa kasus juga dapat diikuti dengan supresi atau pengangkatan indung telur. Pengobatan ini terbukti efektif sebagai terapi atau adjuvan pada penanganan kanker payudara, terutama dalam menghambat efek hormon estrogen terhadap sel kanker. Namun, pengobatan-pengobatan tersebut juga memiliki efek samping pada tubuh yang terutama berkaitan dengan turunnya fungsi estrogen yang dapat berpengaruh pada gangguan fungsi organ lain dan mempengaruhi kualitas hidup pasien.

Pemaparan materi oleh dr. Arief Gazali, SpOG

Efek samping yang berkaitan dengan SERM adalah aktivasi dari reseptor estrogen di sel-sel endometrium atau dinding rahim. Efek samping SERM pada rahim diantaranya adalah dapat terjadi hiperplasia endometrium, peningkatan risiko kanker endometrium, pertumbuhan polip, dan adenomiosis. Tanda dan gejala pada kondisi ini berhubungan dengan gangguan perdarahan pada haid yang tidak normal. Penanganannya adalah dengan melakukan investigasi yang diantaranya dengan pemeriksaan kandungan, ultrasonografi untuk melihat kondisi dinding rahim, biopsi dinding rahim, atau dilakukan histeroskopi, untuk melihat secara langsung daerah yang dicurigai. Penanganan hiperplasia endometrium tergantung dari kondisi dan beratnya efek samping tersebut, dapat berupa pemberian obat-obatan penghenti perdarahan hingga pembedahan. Pada kasus yang sudah melibatkan terjadinya kanker endometrium penanganannya dilakukan sesuai dengan stadium kanker tersebut.

Pada pengobatan dengan AI efek samping yang umum timbul adalah gejala-gejala seperti menopause. Pada organ kewanitaan khususnya gejala yang timbul adalah genitourinary symptoms of menopause (GSM) dikarenakan juga adanya vulvovaginal athrophy (VVA) yang berupa kering pada vagina, rasa terbakar, iritasi, infeksi vagina berulang, peningkatan pH vagina (>5), disfungsi seksual berupa nyeri saat senggama (dyspareunia), hilangnya sensasi, gangguan orgasme, dan hilangnya gairah seksual. Pada GSM juga terjadi gangguan berkemih, antara lain adalah infeksi saluran kemih berulang dan inkontinensia stres urin atau ketidakmampuan menahan berkemih saat terjadi peningkatan tekanan dalam perut misalnya saat batuk atau tertawa.

Penanganan dalam permasalahan GSM dan disfungsi seksual pada penderita kanker cukup kompleks karena tidak hanya melibatkan pengobatan biasa, tetapi juga harus melibatkan sisi psikologis penderita. Pengobatan hormonal sebagai sulih hormon atau topikal masih merupakan kontraindikasi terhadap penderita kanker payudara. Pemberian lubrikasi vagina seringkali tidak cukup menolong. Pengobatan pilihan lain yang sedang berkembang antara lain adalah penggunaan radiofrequency, laser, dan platelet rich plasma (PRP). Inti dari pengobatan tersebut ditujukan untuk merangsang pembentukan jaringan kolagen baru yang akan mengembalikan kondisi vagina atau rejuvenasi vagina.

Pengobatan-pengobatan ini cukup memberi hasil yang memuaskan berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah ada dengan memperbaiki fungsi seksual dan kualitas hidup penderita kanker payudara. Namun, pengobatan menggunakan PRP masih kontroversial karena walaupun menggunakan plasma darah milik pasien sendiri, aktivasi faktor pertumbuhan pada proses ini dikhawatirkan dapat berefek negatif terhadap kanker payudara, meskipun pada penelitian pendahuluan juga didapatkan hasil yang baik terhadap keluhan disfungsi seksual. Penelitian untuk mengatasi efek samping terapi kanker payudara masih terus berkembang hingga saat ini untuk mencapai hasil maksimal.

Sesi tanya jawab didampingi oleh dr. Gunawan sebagai moderator
Sesi tanya jawab
Sesi tanya jawab
Pemberian bingkisan oleh pihak RS MMC
Pemberian hadiah untuk peserta yang memberikan pertanyaan yang menarik
Bernyanyi bersama CISC
Demo kencantikan