CARA KERJA TERAPI HORMON

Ingat kembali, kanker adalah sel-sel yang terus membelah diri secara tidak terkendali sehingga mengganggu fungsi organ. Pada kanker payudara yang memiliki reseptor hormon (terutama estrogen), estrogen dimanfaatkan oleh kanker sebagai “instruksi” agar sel kanker terus membelah diri. Jadi, estrogen harus menempel terlebih dahulu ke reseptor hormon di permukaan sel kanker.

Proses ini yang bisa dihambat dengan obat. Ada dua cara kerja obat terapi hormon pada sel kanker, yaitu mengurangi jumlah estrogen sebisa mungkin dan menghambat proses penempelan estrogen ke reseptor hormon di permukaan sel kanker.

Supresi Fungsi Ovarium

Pada seorang wanita yang belum mengalami menopause, estrogen utamanya dihasilkan oleh indung telur (ovarium). Ovarium adalah organ yang lokasinya tepat di samping kanan dan kiri rahim, tempat sel telur (cikal bakal janin) dibentuk dan disimpan. Ketika menopause, ovarium akan berhenti berfungsi secara alamiah. Selain di ovarium, estrogen juga dihasilkan oleh sel-sel lemak di seluruh tubuh. Dengan demikian, terapi hormon ditujukan untuk menurunkan jumlah estrogen yang dihasilkan dari ovarium dan lemak.

Supresi fungsi ovarium atau produksi estrogen di ovarium dapat dikurangi atau dihilangkan dengan berbagai cara. Cara pertama adalah pengangkatan kedua ovarium melalui proses pembedahan, dikenal dengan nama oovorektomi. Tentunya, fungsi ovarium berhenti permanen pada tindakan ini. Pasien juga tidak lagi bisa mengandung anak setelah tindakan ini.

Ovarium juga dapat “dimatikan” tanpa melalui pembedahan, yaitu menggunakan obat kemoterapi. Fungsi ovarium dapat berhenti secara permanen dengan pemberian kemoterapi. Akan tetapi, pada sejumlah wanita (tidak semua, umumnya bergantung pada usia), fungsi ovarium yang berhenti akibat kemoterapi bisa kembali lagi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian.

Inhibitor Aromatase (Aromatase Inhibitor atau AI)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, estrogen tidak hanya dihasilkan oleh ovarium, tetapi juga oleh sel lemak. Oleh karena itu, produksi estrogen di lemak juga perlu ditekan agar jumlah estrogen keseluruhan bisa turun. Produksi estrogen di lemak bisa ditekan dengan obat inhibitor aromatase (AI).

Pada perempuan yang belum menopause, obat AI harus diberikan setelah fungsi ovarium disupresi. Sebaliknya, AI bisa langsung diberikan pada perempuan yang sudah menopause karena memang ovariumnya sudah tidak berfungsi. 

Penghambat Reseptor Estrogen

Sesuai yang telah dibahas sebelumnya, selain menurunkan jumlah estrogen, terapi hormon juga bisa dilakukan dengan menghambat penempelan estrogen ke reseptor di permukaan sel kanker. Beberapa contoh obat golongan ini yang terdapat di Indonesia adalah selective estrogen receptor modulator (SERM) dan selective estrogen receptor degrader (SERD).

SERM adalah obat yang bersifat sebagai anti-estrogen pada sel- sel payudara, namun bersifat seperti estrogen pada organ lain, seperti rahim dan tulang.

Obat ini dapat diberikan pada perempuan yang belum menopause ataupun sudah menopause. SERM dikonsumsi per oral, umumnya selama lima tahun. Saat ini, ada pula anjuran perpanjangan penggunaan selama 10 tahun (terutama untuk kanker payudara risiko tinggi) untuk semakin menurunkan risiko kekambuhan kanker. Namun, tentunya keputusan ini perlu mempertimbangkan kemungkinan efek samping.

SERD adalah obat yang bekerja dengan cara memblok dan merusak reseptor estrogen, serta bekerja sebagai anti-estrogen di seluruh tubuh. Pemberian obat ini dengan cara disuntikan pada otot.

Inhibitor CDK4/6

Terdapat obat baru yang sebenarnya tidak termasuk dalam terapi hormon, namun dalam penggunaannya, digunakan bersama dengan terapi hormon untuk mengobati kelompok kanker payudara dengan reseptor hormon positif dan reseptor HER2 negatif. Obat ini adalah inhibitor CDK4/6. Cara kerja obat ini dengan menargetkan enzim CDK4 dan CDK6 yang berperan penting dalam pembelahan sel untuk menggandakan diri. Dengan menghambat enzim CDK4/6 ini, pertumbuhan sel kanker akan terhenti. Pemberian obat ini adalah secara oral.