Faktor Risiko Kanker Payudara

Risiko terkena kanker payudara didapatkan dari berbagai kombinasi faktor. Memiliki faktor risiko tidak berarti anda pasti akan mengalami kanker payudara, dan sebaliknya tidak memiliki faktor risiko bukan berarti anda pasti terbebas dari kemungkinan terkena kanker payudara. Faktor risiko dari kanker payudara terdiri dari faktor risiko yang tidak dapat dirubah dan faktor risiko yang dapat dirubah.

A. Faktor risiko yang tidak dapat dirubah

  1. Usia

Perempuan usia 40 tahun memiliki peningkatan angka kejadian kanker payudara secara signifikan dan akan terus meningkat risikonya seiring pertambahan usia perempuan. Angka kejadian kanker payudara tertinggi pada perempuan berusia diatas 70 tahun.

  1. Genetik

Faktor risiko genetik disebabkan oleh mutasi pada gen bernama BRCA1 dan BRCA2. Perempuan yang memiliki mutasi gen ini berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara dan ovarium (indung telur). Cara untuk mendeteksi adanya mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 dapat dilakukan melalui tes darah. Di Indonesia, tes ini sudah dapat dilakukan. Faktor genetik ini pada kenyataannya hanya sebesar 10% dari seluruh penderita kanker payudara. Pada wawancara dengan pasien, faktor ini harus dicurigai jika pada keluarga tingkat pertama (ibu kandung, saudara kandung perempuan, atau anak kandung perempuan) terdapat satu orang yang berusia kurang dari 50 tahun atau 2 orang yang berusia lebih dari 50 tahun yang menderita kanker payudara atau kanker ovarium.

  1. Faktor Reproduksi – Riwayat Menstruasi

Seorang perempuan yang mengalami menstruasi pertama lebih cepat yaitu usia kurang dari 12 tahun atau mengalami menopause (belum berhenti siklus menstruasinya secara permanen)  lebih lambat yaitu usia lebih dari 55 tahun, memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker payudara. Hal ini terjadi akibat paparan hormon estrogen lebih lama, dan hormon estrogen pada perempuan merangsang pertumbuhan sel payudara. Paparan hormon estrogen dimulai sejak siklus menstruasi dimulai hingga selesai (menopause).

  1. Riwayat kanker payudara atau penyakit payudara lain selain kanker.

Jika seorang perempuan sudah didiagnosis menderita kanker payudara, maka risiko terkena kanker payudara untuk kedua kalinya akan lebih tinggi dibandingkan dengan yang belum memiliki riwayat kanker payudara sebelumnya. Hal ini dapat terjadi baik pada payudara yang sama atau payudara lainnya. Riwayat pernah menderita tumor jinak payudara (non-kanker) diketahui dapat sedikit meningkatkan risiko kanker payudara dikemudian hari.

  1. Riwayat Terapi Radiasi Daerah Dada

Pemberian terapi radiasi pada perempuan berusia di bawah usia 45 tahun meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Radiasi yang dimaksud bukan sekedar foto radiologi biasa pada area dada, namun suatu rangkaian terapi radiasi ionisasi atau sering juga disebut radioterapi.. Namun, radiasi hanya menyebabkan peningkatan risiko kanker payudara yang sangat kecil pada perempuan berusia diatas 40 tahun.

B. Faktor risiko yang dapat dirubah

  1. Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik yang berarti dan rutin dilakukan akan menurunkan risiko kanker payudara. Pada perempuan yang sudah terdiagnosis kanker payudara, aktivitas fisik dapat mengurangi risiko kekambuhan. Aktvitas fisik yang dapat dilakukan adalah dengan latihan fisik intensitas sedang, sebanyak lima kali per minggu, dengan durasi masing – masing 30 menit. Contoh latihan fisik intensitas sedang ya adalah berlari, berjalan cepat, berkebun, berenang dan berdansa.

  1. Berat Badan

Perempuan yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas setelah menopause, meningkatkan risiko kanker payudara. Obesitas menyebabkan tubuh memiliki lebih banyak jaringan lemak yang akan menjadi sumber utama estrogen setelah menopause, ketika ovarium berhenti memproduksi hormone estrogen. Dengan demikian, kadar estrogen yang lebih tinggi meningkatkan risiko kanker payudara.

Obesitas dapat dikontrol dengan mengontrol IMT (Indeks Masa Tubuh). IMT dapat dihitung dengan rumus yang sederhana yaitu :

IMT = Berat badan (kg) / Tinggi badan (m2)     


(Sumber : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia)

Dari hasil penghitungan menggunakan rumus IMT, dicocokan dengan batas ambang IMT menurut Kemenkes. Upayakan IMT anda berada pada kisaran normal. Anda dapat mengontrol berat badan anda, agar tidak mengalami obesitas.

  1. Rokok dan Alkohol

Perempuan yang mulai merokok sejak remaja dan melanjutkan merokok hingga lebih dari 20 tahun memiliki peningkatan risiko terhadap kanker payudara. Hal ini terjadi karena jaringan payudara lebih sensitif terhadap zat karsinogen (zat penyebab kanker) pada masa antara permulaan pubertas hingga kehamilan lengkap pertama. Oleh karena itu, hindari merokok, terutama pada masa awal pubertas.

Penelitian menunjukkan bahwa risiko kanker payudara meningkat sesuai dengan jumlah alkohol yang dikonsumsi. Alkohol dapat membatasi kemampuan hati untuk mengontrol kadar hormon estrogen dalam darah, yang nantinya dapat meningkatkan risiko kanker.

  1. Riwayat Kehamilan dan Menyusui

Perempuan yang tidak pernah melahirkan sama sekali lebih berisiko untuk mengalami kanker payudara setelah usia 40-45 tahun. Efek proteksi terhadap kanker payudara didapatkan seorang perempuan 10 tahun setelah kehamilan penuh pertama. Hal ini terjadi karena kehamilan berhubungan dengan pematangan sel-sel payudara sehingga akan lebih tahan terhadap pengaruh dari zat karsinogenik (penyebab kanker). Namun saat kehamilan terjadi, justru terdapat peningkatan risiko kanker payudara karena pada saat itu terjadi pembelahan sel-sel payudara yang terlalu cepat.  Kehamilan yang terjadi di usia lebih dari 35 tahun akan memiliki risiko kanker payudara lebih tinggi dari pada usia muda, karena usia tua sendiri sudah merupakan satu faktor risiko. Menyusui dapat memicu efek protektif terhadap kanker payudara karena menyebabkan sel-sel payudara menjadi lebih “matang”. Pada perempuan yang baru saja melahirkan, penundaan siklus ovulasi (periode ketika perempuan sedang dalam masa subur) dapat terjadi akibat menyusui. Menyusui setidaknya selama empat bulan setelah melahirkan dapat menurunkan risiko kanker payudara.

  1. Kontrasepsi Hormon

Kontrasepsi hormon biasanya disebut dengan pil KB atau suntik KB. Risiko kanker payudara dari penggunaan kontrasepsi hormon dimulai sejak seorang perempuan mulai menggunakan kontrasepsi tersebut, dan risiko tersebut terus berlanjut selama mengunakan kontrasepsi hormonal. Bahkan, jangka waktu pemakaian tidak meningkatkan risiko. Dengan demikian, semakin lama anda menggunakan kontrasepsi hormon maka tidak berarti risiko terhadap kanker payudara semakin bertambah setiap waktunya. Namun, jika seseorang berhenti menggunakan kontrasepsi hormon, risiko kanker payudara akan menurun dan menghilang, setelah sepuluh tahun.

Kontrasepsi hormonal tetap boleh digunakan dengan syarat yang menggunakan adalah perempuan muda. Secara umum, perempuan muda memiliki risiko kanker payudara rendah dan penggunaan kontrasepsi hormon pada perempuan muda yang tidak memiliki faktor risiko kanker payudara lain yaitu faktor genetik, dianggap relatif aman.

  1. Terapi sulih hormon

Terapi hormon pada pasien menopause digunakan untuk meredakan gejala menopause seperti kemerahan pada wajah. Menurut banyak penelitian, terapi sulih hormone ini dapat meningkatkan risiko kanker payudara sejak awal penggunaan dan risikonya terus meningkat secara berarti untuk penggunaan selama lebih dari lima tahun.

Referensi :

  1. org. 2016. Breast Cancer Risk Factor. https://www.breastcancer.org/symptoms/understand_bc/risk/factors. (27 Juni 2019).
  2. Centers for Disease Control and Prevention. 2018. What are The Risk Factors for Breast Cancer?. https://www.cdc.gov/cancer/breast/basic_info/risk_factors.htm. (27 Juni 2019).
  3. Chang, L. 2018. Hormone Replacement Therapy and Breast Cancer Risk. https://www.webmd.com/breast-cancer/breast-cancer-hormone-replacement-therapy-cancer-risk#2. (27 Juni 2019).
  4. Tim Edukasi Medis Kanker Payudara. Cerdas Menghadapi Kanker Payudara. Sinergi Publishing. Jakarta, 2017.
  5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Tabel Batas Ambang Indeks Massa Tubuh (IMT). http://www.p2ptm.depkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/tabel-batas-ambang-indeks-massa-tubuh-imt. (27 Juni 2019).

Penulis : dr. Fitria Adelita

Editor : dr. Farida B. Sobri, SpB(K)Onk.

Artikel ini milik Yayasan Onkologi Indonesia (YOI). Dilarang menyalin tulisan ini tanpa izin YOI.