Deteksi Dini Kanker Payudara

Deteksi dini kelainan payudara dapat dilakukan jika seorang perempuan mengenali payudaranya yang normal terlebih dahulu. Deteksi ini dapat dilakukan dengan cara :

  1. Periksa Payudara Sendiri (SADARI)
  2. Periksa Payudara Klinis (SADANIS)
  3. Skrining

Periksa Payudara Sendiri (SADARI)

Periksa Payudara Sendiri (SADARI) merupakan suatu kegiatan yang paling mudah dilakukan oleh perempuan untuk mendeteksi kelainan pada payudara. Kegiatan ini dapat mulai dilakukan setelah seseorang telah mengalami menstruasi. SADARI menjadi hal yang penting untuk perempuan diatas 30 tahun, dan sebaiknya dilakukan setiap satu bulan sekali. SADARI dilakukan pada hari ke-7 sampai hari ke-15, dihitung sejak hari pertama menstruasi. Bagi perempuan yang sudah menopause, SADARI dapat dilakukan pada tanggal yang sama disetiap bulannya. Langkah-langkah periksa payudara sendiri yaitu:

Sumber : Yayasan Kanker Payudara Indonesia

Lakukan 6 langkah-langkah SADARI tersebut pada kedua payudara secara bergantian. Setiap melakukan kegiatan SADARI, seorang perempuan harus mengenal ciri-ciri kelainan yang mengarah ke kanker payudara sebagai berikut :

Sumber : Yayasan Kanker Payudara Indonesia
  1. Benjolan di payudara
  2. Rasa sakit di ketiak atau payudara yang tampaknya tidak terkait dengan periode menstruasi
  3. Kemerahan pada kulit payudara
  4. Ruam di sekitar (atau diatas) salah satu puting
  5. Pembengkakan (benjolan) di salah satu ketiak
  6. Penebalan sebuah area dari jaringan di payudara atau mengerut seperti jeruk purut
  7. Keluar cairan bercampur darah dari payudara
  8. Perubahan bentuk puting diluar saat menyusui, mungkin menjadi cekung atau terbalik
  9. Perubahan ukuran atau bentuk payudara
  10. Kulit permukaan payudara seperti ditarik ke dalam
  11. Kulit puting susu atau kulit payudara mulai mengelupas, bersisik atau menyerpih.

Jika didapatkan kelainan pada saat kegiatan SADARI ataupun diluar kegiatan, maka harus secepat mungkin memeriksakan diri ke dokter.

Periksa Payudara Klinis (SADANIS)

Periksa payudara klinis atau SADANIS merupakan pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Bagi perempuan berusia dibawah 40 tahun, direkomendasikan melakukan pemeriksaan klinis payudara secara rutin ke dokter sejak usia 25 tahun. Perempuan usia 20-an direkomendasikan 1x / 2 tahun, sedangkan usia 30-an 1x/tahun. Bagi perempuan berusia diatas 40 tahun, direkomendasikan melakukan SADANIS setiap tahun. Jika seorang perempuan mendapati kelainan pada saat melakukan SADARI, dapat segera memeriksakan dirinya ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan SADANIS.

SKRINING

Skrining kanker payudara merupakan pemeriksaan atau usaha untuk menemukan kelainan payudara yang mengarah kepada kanker payudara. Kegiatan skrining ini dilakukan secara rutin walaupun tidak terdapat keluhan. Jika pada skrining kanker payudara ditemukan kelainan yang mengarah ke kanker payudara, selanjutnya diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendiagnosis kanker payudara. Jika didapatkan kanker payudara dini, maka hasil pengobatan menjadi lebih efektif, dengan demikian akan menurunkan kemungkinan kekambuhan, menurunkan angka kematian dan memperbaiki kualitas hidup. Skrining kanker payudara berupa:

  1. Mammografi

            Skrining yang dianjurkan untuk mendeteksi dini kanker payudara pada perempuan berusia diatas 40 tahun adalah dengan mammografi. Pemeriksaan mammografi sudah bermanfaat untuk dilakukan sejak seorang perempuan minimal berusia 35 tahun, dan sedang tidak menyusui. Pemeriksaan mammografi pada perempuan menyusui tetap dapat dilakukan tetapi hasil pemeriksaannya tidak akan seakurat perempuan yang sedang tidak menyusui.  Hal ini disebabkan karena perempuan menyusui memiliki jaringan payudara yang lebih padat. Semakin padat jaringan payudara maka smakin sulit juga untuk melihat kelainan di payudara.  Menurut American Cancer Society, waktu untuk melakukan skrining dengan mammografi berbeda-beda sesuai dengan usianya yaitu sebagai berikut :

  1. Perempuan berusia 40-44 tahun dianjurkan memulai skrining dengan mammografi setiap tahun
  2. Perempuan berusia 45-54 tahun diwajibkan skrining dengan mammografi setiap tahun
  3. Perempuan berusia 55 tahun keatas melakukan skrining dengan mammografi setiap 2 tahun.

Bagi perempuan berusia 55 tahun keatas, umumnya sudah kehilangan banyak jaringan ikat yang menyebabkan mammogram berwarna gelap. Dengan demikian, jika ada kelainan berupa bintik-bintik halus berwarna putih (mikrokalsifikasi) yang mencurigakan, akan lebih mudah terdeteksi, sehingga skrining mammografi dilakukan setiap 2 tahun. Skrining harus dilanjutkan selama perempuan tersebut dalam keadaan sehat dan diperkirakan akan hidup 10 tahun lagi atau lebih.

Jika hasil mamografi tidak didapatkan kelainan atau terdapat kelainan jinak, maka pemeriksaan payudara dilengkapi dengan ultrasonografi untuk membedakan kelainan jinak yang ada berupa kista (rongga berisi cairan)  atau tumor (massa padat), atau kelainan payudara lain seperti misalnya mammary dysplasia.

Ultrasonografi (USG) dapat dilakukan untuk mendeteksi dini kanker payudara perempuan di bawah 40 tahun karena masih memiliki payudara yang padat sehingga sulit dinilai dengan mammografi.  Pada perempuan yang dilakukan mammografi, hasil akan lebih akurat jika dikombinasi dengan USG, namun penggunaan USG tunggal bukanlah alat skrining kanker payudara yang dapat diandalkan.

Sumber: Breastcancer.org

2. Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan mammografi yang ditambahkan dengan USG payudara memiliki akurasi skrining yang semakin meningkat. Namun, pemeriksaan USG payudara saja tidak dapat menggantikan akurasi mammogram. Skrining dengan USG payudara idealnya dilakukan oleh dokter spesialis radiologi. USG sebagai skrining tambahan banyak digunakan karena alat tersedia secara luas, relatif murah dan tidak membuat seseorang terpapar radiasi.

USG berguna untuk melihat beberapa perubahan pada payudara, seperti benjolan (terutama yang bisa dirasakan tetapi tidak terlihat pada mammogram) atau perubahan pada wanita dengan jaringan payudara yang padat. USG juga dapat digunakan untuk melihat perubahan yang terlihat pada mammogram. USG bermanfaat karena sering kali dapat membedakan antara kista berisi cairan (yang tidak akan berubah menjadi kanker) dan massa padat (yang mungkin perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan massa tersebut kanker atau bukan).

Sumber : Pinkhope.org.au

Referensi :

  1. American Cancer Society. Recommendation for the Early Detection of Breast Cancer. https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/screening-tests-and-early-detection/american-cancer-society-recommendations-for-the-early-detection-of-breast-cancer.html. (20 Juni 2019).
  2. American Cancer Society. Breast Ultrasound. https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/screening-tests-and-early-detection/breast-ultrasound.html. (26 Juni 2019).
  3. org. Mammography Technique and Types. https://www.breastcancer.org/symptoms/testing/types/mammograms/types. (20 Juni 2019).
  4. Edukasi Medis Kanker Payudara, Tim. 2017. Cerdas Menghadapi Kanker Payudara. Jakarta: Gema Insani.
  5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf. (20 Juni 2019).
  6. Barter, Krystal. 2018. Breast Ultrasound. https://pinkhope.org.au/ultrasound-for-breast-screening/. (26 juni 2019)
  7. Yayasan Kanker Payudara Indonesia. SADARI (Periksa Payudara Sendiri). https://pitapink-ykpi.or.id/sadari-periksa-payudara-sendiri/. (20 Juni 2019).
  8. Yayasan Kanker Payudara Indonesia. Tanda dan Gejala Kanker Payudara. https://pitapink-ykpi.or.id/blockquote-post/. (20 Juni 2019).

Penulis : dr. Fitria Adelita

Editor : dr. Farida B. Sobri, SpB(K)Onk.

Artikel ini milik Yayasan Onkologi Indonesia (YOI). Dilarang menyalin tulisan ini tanpa izin YOI.