Kenali Faktor Risiko Kanker Payudara

Sebelum membahas mengenai faktor risiko kanker payudara lebih lanjut, mari kita fahami bersama dengan apa yang dimaksud faktor risiko. Faktor risiko berarti adalah hal-hal yang meningkatkan kemungkinan seseorang mendapat satu penyakit.  Seseorang yang memiliki faktor risiko kanker payudara, berarti ia memiliki kemungkinan lebih besar mendapatkan kanker payudara dibanding orang yang tidak memiliki faktor risiko, namun tidak berarti ia pasti akan terkena kanker payudara.

Sebaliknya, tidak ada jaminan seseorang yang tidak memiliki faktor risiko kanker payudara tidak akan pernah terkena penyakit tersebut.  Sehingga dapat disimpulkan, mengenali faktor risiko kanker payudara pada diri masing-masing  bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan jika memilikinya, dan memodifikasi faktor risiko yang dapat kita kendalikan, namun tidak perlu menjadi khawatir berlebihan.

GENETIK DAN REPRODUKSI

Faktor risiko genetik (keturunan)

Walaupun faktor risiko ini paling sering ditanyakan oleh pasien, kenyataannya jumlah penderita kanker karena faktor ini hanya sebesar 10% dari seluruh penderita kanker payudara. Hal ini disebabkan penyimpangan pada gen  yang bernama BRCA 1 dan BRCA2.

Salah satu contoh terpopuler kasus ini adalah aktris dunia Angelina Jolie yang mengetahui bahwa gen BRCA 1 di tubuhnya mengalami penyimpangan. Ini berarti ia memiliki risiko 87% terkena kanker payudara dalam hidupnya. Menyadari risiko tersebut, mantan istri dari Brad Pitt ini memutuskan melakukan mastektomi ganda atau pengangkatan kedua payudaranya untuk memperkecil risiko kanker payudara hingga kurang dari 5%.

Cara untuk mendeteksi keberadaan mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 dapat dilakukan melalui tes darah. Di Indonesia tes ini sudah dapat dilakukan namun berbiaya cukup tinggi, tetapi patut dipertimbangkan oleh pasien kanker payudara yang berusia <35 tahun saat pertama kali mendapatkan penyakit ini dan oleh mereka yang memiliki riwayat keluarga dekat mengalami kanker payudara atau kanker ovarium (indung telur) saat  berusia <50 tahun sebanyak 1 orang atau berusia >50 tahun sebanyak 2 orang.

 

Faktor Reproduksi

Mengalami menstruasi pertama lebih cepat dan menopause lebih lambat. Hal ini menjadi risiko kanker payudara, karena berarti wanita ini terpapar dengan hormon lebih lama dalam hidupnya. Pada faktor risiko ini modifikasi yang dapat dilakukan adalah menunda menstruasi pertama pada anak-anak perempuan dengan cara membuat anak-anak ini aktif secara fisik, baik berupa aktivitas olah raga terprogram maupun memotivasi mereka untuk lebih senang bermain sambil bergerak.

Perempuan yang tidak pernah melahirkan memiliki risiko kanker payudara yang meningkat untuk mendapatkan kanker payudara setelah usia 40-45 tahun. Mengapa demikian ? Karena kehamilan pertama berhubungan dengan ‘pematangan’ sel-sel payudara, sehingga sel-sel payudara akan menjadi lebih tahan gerhadap pengaruh dari zat-zat karsinogenik (penyebab kanker). Namun demikian, penurunan risiko kanker payudara setelah kehamilan tidak terjadi secara langsung, tapi akan bermanifestasi kira-kira 10-15 tahun pasca kehamilan pertama.

Semakin tua usia wanita saat kehamilan pertama, kemungkinan terjadi kesalahan pembelahan sel yang dapat menuju terjadinya kanker payudara makin tinggi.

Jumlah kelahiran berkaitan dengan penurunan risiko kanker payudara, setiap penambahan satu kelahiran akan menurunkan risiko jangka panjang dari kanker payudara.

Menyusui dapat memicu efek protektif terhadap kanker payudara karena menyusui dapat menyebabkan sel-sel payudara menjadi lebih ‘matang’ selain juga dapat menunda siklus menstrual ovulasi (siklus menstruasi yang menghasilkan telur matang) setelah melahirkan. Menyusui setidaknya selama 4 bulan dapat menurunkan risiko kanker payudara.

GAYA HIDUP TERNYATA MEMPENGARUHI

Aktivitas Fisik

Berbagai penelitian secara meyakinkan membuktikan bahwa aktivitas fisik dapat menurunkan risiko kanker payudara. Anak-anak perempuan yang berolahraga rutin akan mengalami penundaan menarche (mens pertama). Remaja yang memiliki aktivitas fisik intensitas tinggi (atlet) memiliki efek pencegahan kanker payudara yang baik.

Pada perempuan berusia kurang dari 40 tahun, penurunan risiko kanker payudara yang bermakna didapatkan jika perempuan tersebut memiliki aktivitas fisik rutin dibanding perempaun yang tidak melakukannya.  Aktivitas fisik ringan, seperti mengerjakan pekerjaan rumah tangga, berkebun, dan jalan santai, tidak diperhitungkan sebagai aktivitas fisik pada penelitian yang ada, karena aktivitas fisik yang dimaksudkan adalah aktivitas fisik dengan target denyut jantung tertentu. Efek terkuat aktivitas fisik dalam menurunkan risiko kanker payudara didapatkan pada kelompok perempuan  yang belum menopause dengan indeks massa tubuh (IMT) < 25 kg/m2. .

Pada perempuan yang sudah terdiagnosis kanker payudara, aktivitas fisik juga memegang peranan penting untuk mengurangi risiko kekambuhan. Anjuran umum untuk latihan fisik yang dapat menurunkan risiko mendapatkan / mengalami kekambuhan  kanker payudara adalah : latihan fisik berintensitas sedang, sebanyak 5 kali per minggu, dengan durasi masing-masing selama 30 menit. Tidak sulit bukan ?

 

Berat Badan

IMT merupakan hasil perhitungan berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan (dalam meter) kuadrat. Seorang perempuan dianjurkan untuk berada pada kisaran IMT 20-25 kg/m2, untuk mengurangi risiko kanker payudara.

Contoh cara menghitung IMT :

Ibu Wita, tinggi badan 160 cm, berat badan 55 kg.

Maka IMT Ibu Wita :

Berat (Kg) / (Tinggi badan (m))2 =

55 / (1,6)2 = 50/2,56 = 21,48 kg/m2

Maka disimpulkan  IMT Ibu Wita ideal.

Panduan umum mengenai berat badan pada perempuan dikaitkan dengan risiko kanker payudara adalah : Selama masa awal dewasa (remaja), kelebihan berat badan dikaitkan dengan rendahnya kejadian kanker payudara pada saat perempuan tersebut nanti menopause. Tapi penambahan berat badan setelah usia 18 tahun berhubungan dengan peningkatan risiko yang penting untuk terjadinya kanker payudara saat menopause kelak.

Berat badan yang berlebih atau obesitas setelah menopause meningkatkan risiko kanker payudara karena terjadi peningkatan produksi estrogen pada jaringan lemak. Sebelum menopause, sel telur memproduksi estrogen dalam jumlah besar, sedangkan jaringan lemak memproduksi estrogen dalam jumlah kecil. Setelah menopause, ovarium berhenti memproduksi estrogen sehingga sebagian besar estrogen diproduksi oleh jaringan lemak.

Selain hormon estrogen terjadi juga peningkatan hormon insulin dalam darah pada mereka yang memiliki berat badan berlebih saat menopause. Kadar insulin ini juga menjadi indikator beberapa jenis kanker, salah satunya adalah kanker payudara.

 

Rokok

Berbagai penelitian ilmiah skala besar menunjukkan adanya hubungan antara merokok dalam jangka waktu lama pada perempuan yang belum pernah melahirkan satu kalipun dengan risiko kanker payudara. Risiko yang sama dimiliki perempuan yang mulai merokok sejak remaja dan melanjutkannya hingga lebih dari 20 tahun.  Hal ini karena jaringan payudara lebih sensitif terhadap karsinogen (zat penyebab kanker) pada masa antara awal pubertas dengan kehamilan lengkap pertama.

Penelitian lain mendapatkan hasil risiko kematian akibat kanker payudara yang sangat tinggi pada perempuan (berapapun usianya) yang mengonsumsi rokok di atas 20 bungkus per tahunnya. Perokok pasif diperkirakan juga mengalami peningkatan risiko kanker payudara karena asap buangan rokok memiliki sifat karsinogenik lebih besar daripada asap yang dihirup perokok aktif, terutama jika perokok pasif tersebut telah menghisap asap rokok sejak usia kecil dan terus berlanjut hingga dewasa, baik di rumah maupun di tempat bekerja.