APA ITU TERAPI TARGET?

Terapi target merupakan pengobatan kanker yang secara khusus langsung menuju ke sel kanker tanpa mengganggu sel normal. Berbeda dengan kemoterapi yang ikut merusak sel-­sel sehat, terapi target hanya menyasar sel kanker saja. Dengan demikian, terapi target memiliki efek samping yang relatif lebih ringan dibandingkan kemoterapi.

Pada kanker payudara, terapi target umumnya diberikan pada tipe kanker dengan ekspresi human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) berlebih. HER2 adalah sejenis protein yang dibu­tuhkan oleh beberapa jenis kanker payudara untuk bertumbuh dan membelah diri. Produksi protein ini diatur oleh sebuah gen dengan nama yang sama, yaitu gen HER2. 

Cara kerja terapi target bermacam­-macam. Pada kasus kanker payudara, umumnya terapi target bekerja terhadap reseptor (bia­sanya reseptor HER2) di permukaan sel kanker payudara. Metode ini disebut sebagai terapi target menggunakan antibodi monoklo­ nal. Adanya ikatan antara antibodi monoklonal dengan reseptor HER2 akan menghambat sinyal­sinyal kimia yang menstimulasi pertumbuhan tumor yang tidak terkontrol.

Ada­-tidaknya ekspresi berlebih dari HER2 diketahui melalui pe­meriksaan imunohistokimia (IHK). Pemeriksaan IHK merupakan pemeriksaan yang menggunakan pewarna kimia untuk mewarnai protein HER2. Agar pemeriksaan IHK bisa dilakukan diperlukan sampel atau spesimen dari jaringan kanker payudara yang diper­oleh melalui biopsi.

Banyak studi yang sudah meneliti mengenai perbandingan an­tara pemberian terapi kemoterapi saja dengan terapi kombinasi kemoterapi dan terapi target pada kanker payudara dengan sifat Her2 positif. Pemberian terapi kombinasi (kemoterapi dibarengi terapi target) akan memberikan keuntungan, baik pada saat preoperasi ataupun pascaoperasi. Pada kasus kanker payu­dara yang tidak lagi bisa dioperasi (kanker payudara dengan me­ tastasis atau penyebaran ke organ lain), terapi kombinasi juga memberikan hasil yang baik sebagai terapi primer. Mayoritas efek samping terapi kombinasi adalah efek samping ringan hing­ga moderat sehingga bisa ditoleransi pasien dengan baik.

Untuk kasus pascaoperasi, terapi kombinasi memberikan manfaat karena menurunkan risiko kambuh sebesar 30% dan penambahan angka ketahanan hidup (overall survival) sebesar 25–30%.

Untuk kasus preoperasi, terapi kombinasi dapat mencapai angka respons pengurangan volume tumor sekitar dua kali lipat lebih besar dibandingkan terapi tunggal kemoterapi. De­ngan angka respons yang lebih besar tersebut, memungkinkan dokter untuk melakukan jenis pembedahan payudara yang lebih sederhana dan tidak perlu mengangkat banyak jaringan payu­dara (breast-conserving surgery). Selain itu, volume tumor yang lebih kecil menurunkan risiko kambuhnya kanker dan mening­katkan angka ketahanan hidup pasien.

Untuk kanker payudara yang telah bermetastasis atau menye­bar ke organ­organ lain, terapi kombinasi dapat memperlambat perkembangan kanker dan meningkatkan durasi respons kanker terhadap pengobatan.